
Surabaya, paspos.com – Ketua Pengurus Daerah Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PD PPAD) Provinsi Jawa Timur, Mayjen TNI (Purn) Dr. Drs. Wibisono Poespitohadi, M.Sc., M.Si. (Han), menerima kunjungan silaturahmi 8 Pemimpin Redaksi di kantor PPAD jl. Brawijaya no. 38 B, Komplek Kodam V Brawijaya, Sawunggaling, Kecamatan Wonokromo Surabaya. Dalam ajang silaturahmi ini digelar diskusi strategis terkait pentingnya ketahanan pangan nasional sebagai pilar utama dalam menjaga stabilitas, kedaulatan, dan keberlanjutan pembangunan bangsa, Selasa (20/01/2026).
Suasana hangat dan penuh akrab tersebut tampak terlihat di wajah para pemimpin redaksi media cetak, online, dan TV ini. Diskusi menjadi hidup diruang dialog terbuka antara unsur purnawirawan TNI AD dan para pemimpin redaksi dalam menyikapi tantangan ketahanan pangan di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Dalam paparannya, Mayjen TNI (Purn) Dr. Drs. Wibisono Poespitohadi, M.Sc., M.Si. (Han) menegaskan bahwa, ketahanan pangan bukan sekadar isu pertanian, melainkan bagian integral dari ketahanan nasional yang berdampak langsung terhadap stabilitas sosial, ekonomi, hingga keamanan negara.
“Ketahanan pangan adalah fondasi utama ketahanan bangsa. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri secara mandiri, berkelanjutan, dan berkeadilan,” tegasnya.
Ia menambahkan, apabila sektor pangan lemah, maka potensi kerawanan sosial akan meningkat dan dapat memengaruhi stabilitas nasional. Oleh karena itu, ketahanan pangan harus menjadi agenda bersama seluruh elemen bangsa.
Sebagai organisasi purnawirawan TNI AD, PPAD memiliki tanggung jawab moral dan historis untuk terus berkontribusi dalam pembangunan nasional. Menurut Mayjen TNI (Purn) Wibisono, pengalaman, kedisiplinan, serta jiwa pengabdian para purnawirawan dapat menjadi kekuatan besar dalam mendukung program-program pemerintah, khususnya di bidang ketahanan pangan.
PPAD Provinsi Jawa Timur, selanjutnya, siap berperan aktif melalui edukasi masyarakat, pendampingan di wilayah pedesaan, serta penguatan wawasan kebangsaan agar masyarakat semakin peduli terhadap pentingnya kemandirian pangan.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua PD PPAD Jatim juga menekankan pentingnya peran media sebagai mitra strategis dalam membangun kesadaran publik. Media memiliki posisi vital dalam menyampaikan informasi yang akurat, edukatif, dan konstruktif terkait isu pangan.
“Media bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga agen perubahan. Melalui pemberitaan yang berimbang dan mencerahkan, masyarakat akan semakin memahami pentingnya menjaga ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Para Pemimpin Redaksi yang hadir menyambut positif pandangan tersebut dan menyatakan kesiapan untuk terus mengawal isu ketahanan pangan melalui pemberitaan yang inspiratif dan solutif.
Diskusi juga menyoroti berbagai tantangan ketahanan pangan nasional, seperti dampak perubahan iklim, alih fungsi lahan pertanian, ketergantungan impor, fluktuasi harga pangan, serta ketidakpastian geopolitik global. Kondisi ini menuntut adanya sinergi kuat antara pemerintah pusat dan daerah, TNI–Polri, pelaku usaha, petani, akademisi, dan masyarakat luas.
Menurut Mayjen TNI (Purn) Wibisono, kolaborasi lintas sektor merupakan kunci dalam menciptakan sistem pangan yang tangguh dan berdaya saing.
Sebagai solusi jangka panjang, Ketua PD PPAD Jatim mendorong penguatan pangan lokal, diversifikasi sumber pangan, serta pemanfaatan teknologi pertanian modern. Langkah ini dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani, serta mengurangi ketergantungan pada impor.
Penguatan lumbung pangan desa dan pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal juga disebut sebagai bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan dari tingkat bawah.
Diskusi ditutup dengan komitmen bersama antara PD PPAD Provinsi Jawa Timur dan para Pemimpin Redaksi untuk terus bersinergi mendukung ketahanan pangan nasional sebagai bagian dari upaya menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI.
“Ketahanan pangan adalah tanggung jawab kita bersama. Dari Jawa Timur, kita wujudkan Indonesia yang mandiri, kuat, dan berdaulat pangan,” tutupnya. (dir)
